Senin, 11 April 2016

Puisi Minggu Malam (1)

aku bukanlah matahari
Yang selalu menyinarimu setiap pagi
Aku bukanlah rembulan
Yang menemanimu setiap malam
Tapi aku ingin menjadi udara yang selalu bersanding denganmu.

Senyummu saja mengandung hormon endrofin yang membuatku selalu bahagia saat melihat senyumanmu (Roby)

Kau,
adalah sore sehabis hujan
Padamu,
segala hal menemu batas;
kenangan, harapan, juga gerakan jarum jam (Nury)

Cinta bukanlah soal mereka
Bukan pula hanya tentang kita

Namun cinta adalah perasaan
Rasa dan anugrah campur tangan Tuhan (Gema)

Jarum jam menunjukkan seberapa lama kenangan terajut.
Juga membunuh semua itu bak samurai (Febie)

Bukan cinta namanya jika tidak ada perbedaan.
Merajut kasih bersama dalam menyatukan aku dan kamu menjadi kita.
Temukan bahagiamu, karena cinta sejati tidak akan jatuh ke hati yang salah. (Mutiara)

Jika memang sempat kau terluka oleh cinta
Maka itu bukanlah cinta sejati yang kau punya
Sebab cinta adalah anugrah sang kuasa
Takkan pernah membuatmu menderita (April)

Sayang, bukan perpisahan kita yang kusesali.
Tapi hangatnya ciumanmu masih melekat di bibirku.
Lihat sayang! Bibir merekahmu membuatku candu.
(Mutiara)

Disaat aku dan kamu menjadi kita
Jangan ada kata dia di antara kita
Aku pernah merasakan sakitnya cinta
Di saat dua hati menjadi luka.

Senyummu mengandung endorfin
Yang selalu membuatku senang
Saat melihat kamu tersenyum
Sapaanmu mengandung morfine
Yang mengobati
Segala luka di hatiku. (Roby)

Ingin segera ku gigit
Kau, dua iris tomat dalam sandwich (Febie)

Kamu....kamu seperti hantu
mengusik sepi mengganggu kesendirianku.
kamu seperti candu membuatku selalu rindu.
Tapi kamu hanya kepingan kecil yang kini tak berarti.
kau tlah pergi meninggalkan sejuta mimpi dan tanya (Suwanto)

Kamu...adalah candu bagiku..memabukkan namun selalu kurindukan..ku tak mampu tuk lepas dari jerat pesona yang kau miliki...meski kusadar kau tak boleh tuk kumiliki... (Edith)

Jangan  bicara cinta bila hanya sesaat saja
Jangan katakan rindu jika hatimu tidaklah untukku (April)

Kita ini seperti kopi.
Kamu manisnya, aku ampasnya. (Mutiara)

Aku masih disini bersama luka di kala senja menyapa
Aku terdiam dalam dinginnya malam
Mengenang tentang hati yang hilang. (Roby)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar