Saat mendengar Harper Lee tutup usia, entah mengapa aku ingin menulis sesuatu tentang dia. Bukan perkara karyanya yang mendunia, semua orang sudah tahu itu, tapi mengapa ia hanya menerbitkan satu novel selama berpuluh-puluh tahun? Novel kedua, Go Set A Watchman yang diterbitkan tahun lalu, justru ditemukan dari manuskrip lawas yang ia tulis sebelum To Kill A Mockingbird.
Di awal masa pubernya, Harper Lee hanyalah seorang gadis yang pendiam dan tertutup. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di kantor penerbitan kampus di mana ia menjadi editor. Sempat kuliah hukum tapi memilih tak menamatkannya. Ia memutuskan untuk berhenti dan merantau ke New York. Pernah menjadi marketing tiket penerbangan sembari menulis cerita-cerita pendek, sebelum menerbitkan novel perdananya.
Sejatinya, novel pertama yang hendak ia terbitkan berjudul Go Set A Watchman. Lalu sang editor mengusulkan untuk merevisi naskah awal itu dan menuliskan kembali dari sudut pandang salah satu tokoh di dalam novelnya; seorang anak kecil. Demikianlah, melalui kacamata gadis kecil, novel To Kill A Mockingbird akhirnya lahir.
To Kill A Mockingbird adalah novel yang bercerita tentang ketidakadilan rasial di sebuah kota kecil di Alabama. Adalah Atticus, seorang pengacara kulit putih yang membela orang kulit hitam. Ia mendapat tempaan luar biasa dari masyarakat karena pada masa itu Amerika sedang dilanda krisis rasial. Cerita yang disuguhkan memang tergolong berat, namun karena dituturkan dari sudut pandang Scout, putri kecil Atticus, novel bertema berat ini menjadi lebih cair. Pandangan-pandangan Scout yang lucu namun cerdas, berhasil membangkitkan sisi lain dari ironi yang dibangun.
Buku tersebut terjual lebih dari 10 juta kopi. Diterjemahkan ke dalam 40 bahasa berbeda di seluruh dunia.To Kill A Mockingbird menjadi salah satu karya fiksi paling disukai yang ditulis oleh seorang warga Amerika. Novel ini juga dipelajari di sekolah-sekolah sebagai bacaan wajib bagi siswanya.
Harper Lee, ketika menerbitkan To Kill A Mockingbird, tidak pernah ingin terkenal. Ia tidak menargetkan bukunya menjadi best seller. Apalagi membayangkan tulisannya akan mendapat Pulitzer, tidak pernah sama sekali. Harper Lee hanya menulis saja. Siapa sangka, buku yang ditulis berdasarkan pengalaman masa kecilnya, ketika menghadapi rasisme pada orang-orang kulit hitam, telah berhasil menyentuh hati banyak orang.
Itulah sebabnya, setelah novel To Kill A Mockingbird melejit, Harper Lee justru menghilang. Sejak kecil ia tak menyukai hingar-bingar. Popularitas tidak pernah menjadi tujuannya kala memulai untuk menulis. Walaupun Pulitzer kategori fiksi yang diterimanya otomatis menjadikan dia selebritas sastra, Harper Lee jutru menganggapnya sebagai peran yang menindas. Oleh karena itu ia tidak pernah menerimanya. Ia bahkan tidak pernah menulis novel lagi, walau banyak penggemar yang menantikan karya berikutnya. Kenyataan ini seolah menegaskan bahwa ia penulis yang berjiwa bebas, sama sekali mengesampingkan pangsa pasar, penggemar, popularitas atau keuntungan materi.
Harper Lee menerima sekitar 40 Milyar per tahun dari royalti buku To Kill A Mockingbird yang telah melambungkan namanya. Namun ia tetap hidup sederhana, tinggal bersama kakaknya, Alice, di sebuah apartemen kecil di Alabama. Ia bahkan pergi ke mana-mana menumpang bus. Uang tidak pernah menjadi prioritas utamanya sejak awal menulis. Sebagian besar royalti yang diterimanya, disumbangkan untuk amal. Itupun ia menggunakan nama anonim, tanpa menyertakan namanya sendiri.
Sepanjang lima puluh enam tahun sejak To Kill A Mockingbird lahir, Harper Lee sedikit sekali melakukan wawancara. Ia senang menyendiri dan tidak menyukai publikasi. Tak banyak yang mengetahui kehidupannya. Ia menjaga keseharian pribadinya dan tinggal di sebuah kota kecil yang tenang di pinggiran Alabama. Di kota itu ia sangat dicintai oleh warganya dan penduduk sekitar turut serta menjaga privacy-nya. Tahun 2007 ia sempat terkena stroke dan kehilangan banyak kesadaran. Tahun 2016, setahun setelah merilis novel keduanya Go Set A Watchman,ia meninggal dalam tidur yang tenang.
Mungkin begitulah seharusnya menjadi seorang penulis: hanya menulis, dengan sepenuh hati. Tak peduli pada apapun atribut yang melekat di belakangnya. Jika kemudian tulisannya mendapat apresiasi bagus, best seller, penghargaan, popularitas atau royalti gemuk, anggap saja hanya bonus. Harper Lee telah berhasil melampaui hal-hal semacam itu dan tidak pernah menjadikannya tujuan utama. Menulis bukan untuk siapapun, melainkan diri sendiri.
-end-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar