Minggu, 17 April 2016

Puisi Minggu Malam (2)

Aku masih disini bersama luka di kala senja menyapa
Aku terdiam dalam dinginnya malam
Mengenang tentang hati yang hilang. (Roby)

Tentang hati yang hilang...yang entah dimana bisa kutemukan...padahal didalamnya tersimpan berjuta rasa cinta untukmu...(Edith)

Hubungan kita itu mirip kopi
Aku gulanya
Kamu kopinya
Dan dia
Adalah sianida diantara kita. (Roby)

Berhentilah kau di dalam cangkirku!
Kopi ini manis sepertimu.
Meninggalkan candu, lalu hilang.(Mutiara)

Aku akan berhenti di cangkirmu
Tapi tolong singkirkan dia
Dari gelasmu
Biarku ingat merah bibirmu saat mencium lembut di ujung gelas ini.(Roby)

Di ujung gelas ini...ada memory tersimpan rapi..dalam ramuan kopi yang kau suguhkan...beraroma cinta nan membara..(Edith)

Kamu dikirim padaku sebagai rahmat
Tanpamu aku lemah seperti mayat
Aku bukanlah seorang keparat
Namun akulah yang akan mengajarkanmu, arti dari nikmat (Gema)

Pecahkan saja gelasnyaaa...
biar menggaduh sampai gaduh..(Mutiara)

Tidak beraroma cinta nan membara
Akan tetapi
Beraroma luka berbau cinta
Pecahkan saja gelasnyaaa...
biar menggaduh sampai gaduh.

Tapi aku hanya punya gelas plastik
walaupun dibanting akan tetap utuh.
Itulah besarnya cintaku padamu (Roby)

Karena aku tak butuh gula dalam cangkir kopiku.
Aku tahu, mungkin semua orang berkata pahit.
Tapi tidak denganku yang selalu melihat senyum manismu. (Aab)

Aku tak berharap kenikmatan darimu.
Aku lebih baik menjadi mayat sepertimu.
Menjadi keparat sepertimu.
Sampai kapan pun aku dan kamu hanyalah dua insan yang semu.(Mutiara)

Sayang, sekalipun kita jadi mayat, aku ingin dikafani di satu kain bersamamu, untuk kemudian dibaringkan di satu nisan, juga bersama kamu. (Faizol)

Jika mencintaimu tak bisa membawa nikmat maka sudah dipastikan bahwa cintaku kepadamu hanya sebuah hasrat.(Roby)

Ah, lagi-lagi kau mengisi bensin.
Padahal tangki hatiku sudah kosong sejak dulu. (Aab)

Haruskah kita memulai lagi dari nol untuk mengisi bensin cintaku padamu? (Roby)

Dapetin kamu, sesulit ngisi bensin. Udah mahal, ngantri lagi (Gema)

Tapi seperti itulah cintaku.
Laksana bensin yang jarang turun.
Tapi kepastian naik tak terbendung.(Aab)

Tapi terkadang cintamu di ecer di pinggir jalan, dan cintamu di oplos dengan kenangan bersama mantan-mantanmu.(Roby)

Senin, 11 April 2016

Puisi Minggu Malam (1)

aku bukanlah matahari
Yang selalu menyinarimu setiap pagi
Aku bukanlah rembulan
Yang menemanimu setiap malam
Tapi aku ingin menjadi udara yang selalu bersanding denganmu.

Senyummu saja mengandung hormon endrofin yang membuatku selalu bahagia saat melihat senyumanmu (Roby)

Kau,
adalah sore sehabis hujan
Padamu,
segala hal menemu batas;
kenangan, harapan, juga gerakan jarum jam (Nury)

Cinta bukanlah soal mereka
Bukan pula hanya tentang kita

Namun cinta adalah perasaan
Rasa dan anugrah campur tangan Tuhan (Gema)

Jarum jam menunjukkan seberapa lama kenangan terajut.
Juga membunuh semua itu bak samurai (Febie)

Bukan cinta namanya jika tidak ada perbedaan.
Merajut kasih bersama dalam menyatukan aku dan kamu menjadi kita.
Temukan bahagiamu, karena cinta sejati tidak akan jatuh ke hati yang salah. (Mutiara)

Jika memang sempat kau terluka oleh cinta
Maka itu bukanlah cinta sejati yang kau punya
Sebab cinta adalah anugrah sang kuasa
Takkan pernah membuatmu menderita (April)

Sayang, bukan perpisahan kita yang kusesali.
Tapi hangatnya ciumanmu masih melekat di bibirku.
Lihat sayang! Bibir merekahmu membuatku candu.
(Mutiara)

Disaat aku dan kamu menjadi kita
Jangan ada kata dia di antara kita
Aku pernah merasakan sakitnya cinta
Di saat dua hati menjadi luka.

Senyummu mengandung endorfin
Yang selalu membuatku senang
Saat melihat kamu tersenyum
Sapaanmu mengandung morfine
Yang mengobati
Segala luka di hatiku. (Roby)

Ingin segera ku gigit
Kau, dua iris tomat dalam sandwich (Febie)

Kamu....kamu seperti hantu
mengusik sepi mengganggu kesendirianku.
kamu seperti candu membuatku selalu rindu.
Tapi kamu hanya kepingan kecil yang kini tak berarti.
kau tlah pergi meninggalkan sejuta mimpi dan tanya (Suwanto)

Kamu...adalah candu bagiku..memabukkan namun selalu kurindukan..ku tak mampu tuk lepas dari jerat pesona yang kau miliki...meski kusadar kau tak boleh tuk kumiliki... (Edith)

Jangan  bicara cinta bila hanya sesaat saja
Jangan katakan rindu jika hatimu tidaklah untukku (April)

Kita ini seperti kopi.
Kamu manisnya, aku ampasnya. (Mutiara)

Aku masih disini bersama luka di kala senja menyapa
Aku terdiam dalam dinginnya malam
Mengenang tentang hati yang hilang. (Roby)

Aku Siapa?

Aku bukan lah seorang pujangga yang pandai membuat puisi-puisi cinta untuk para wanita.

Aku juga bukan seorang musisi yang pindar membuat lagu-lagu bertemakan cinta, sehingga para wanita terlena.

Aku bukanlah anak seorang Raja yang memiliki tahta dan banyak harta,sehingga para wanita terpanah.

Aku bukanlah seorang penggombal yang dengan mudahnya mengutarakan kata-kata cinta kepada wanita, meski belum tahu kebanarannya.

Lalu Aku siapa...?
Aku bukan tipe lelaki seperti mereka..?

"Kau adalah lelaki biasa, yang takut menguratakan cinta ke pada sembarang wanita, karena takut akan dosa yang akan diterima.
Dan kau lelaki yang mengutarakan cinta melalui doa-doa di sepertiga malamnya."

Aku tersentak, mataku menjelalak,mencari sumber suara tanpa ada rupa.

Lalu aku bertanya "kau syapa..?"

"Aku istri Mu kelak...!"

Mengutaran cinta saja susah, masa langsung memiliki istri saja.Mungkin ini jawaban atas segala doa yg ku panjatkan.

(Apriyandi)

Jumat, 08 April 2016

Harper Lee, Menulis dengan Hati

Saat mendengar Harper Lee tutup usia, entah mengapa aku ingin menulis sesuatu tentang dia. Bukan perkara karyanya yang mendunia, semua orang sudah tahu itu, tapi mengapa ia hanya menerbitkan satu novel selama berpuluh-puluh tahun? Novel kedua, Go Set A Watchman yang diterbitkan tahun lalu, justru ditemukan dari manuskrip lawas yang ia tulis sebelum To Kill A Mockingbird.

Di awal masa pubernya, Harper Lee hanyalah seorang gadis yang pendiam dan tertutup. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di kantor penerbitan kampus di mana ia menjadi editor. Sempat kuliah hukum tapi memilih tak menamatkannya. Ia memutuskan untuk berhenti dan merantau ke New York. Pernah menjadi marketing tiket penerbangan sembari menulis cerita-cerita pendek, sebelum menerbitkan novel perdananya.

Sejatinya, novel pertama yang hendak ia terbitkan berjudul Go Set A Watchman. Lalu sang editor mengusulkan untuk merevisi naskah awal itu dan menuliskan kembali dari sudut pandang salah satu tokoh di dalam novelnya; seorang anak kecil. Demikianlah, melalui kacamata gadis kecil, novel To Kill A Mockingbird akhirnya lahir.

To Kill A Mockingbird adalah novel yang bercerita tentang ketidakadilan rasial di sebuah kota kecil di Alabama. Adalah Atticus, seorang pengacara kulit putih yang membela orang kulit hitam. Ia mendapat tempaan luar biasa dari masyarakat karena pada masa itu Amerika sedang dilanda krisis rasial. Cerita yang disuguhkan memang tergolong berat, namun karena dituturkan dari sudut pandang Scout, putri kecil Atticus, novel bertema berat ini menjadi lebih cair. Pandangan-pandangan Scout yang lucu namun cerdas, berhasil membangkitkan sisi lain dari ironi yang dibangun.

Buku tersebut terjual lebih dari 10 juta kopi. Diterjemahkan ke dalam 40 bahasa berbeda di seluruh dunia.To Kill A Mockingbird menjadi salah satu karya fiksi paling disukai yang ditulis oleh seorang warga Amerika. Novel ini juga dipelajari di sekolah-sekolah sebagai bacaan wajib bagi siswanya.

Harper Lee, ketika menerbitkan To Kill A Mockingbird, tidak pernah ingin terkenal. Ia tidak menargetkan bukunya menjadi best seller. Apalagi membayangkan tulisannya akan mendapat Pulitzer, tidak pernah sama sekali. Harper Lee hanya menulis saja. Siapa sangka, buku yang ditulis berdasarkan pengalaman masa kecilnya, ketika menghadapi rasisme pada orang-orang kulit hitam, telah berhasil menyentuh hati banyak orang.

Itulah sebabnya, setelah novel To Kill A Mockingbird melejit, Harper Lee justru menghilang. Sejak kecil ia tak menyukai hingar-bingar. Popularitas tidak pernah menjadi tujuannya kala memulai untuk menulis. Walaupun Pulitzer kategori fiksi yang diterimanya otomatis menjadikan dia selebritas sastra, Harper Lee jutru menganggapnya sebagai peran yang menindas. Oleh karena itu ia tidak pernah menerimanya. Ia bahkan tidak pernah menulis novel lagi, walau banyak penggemar yang menantikan karya berikutnya. Kenyataan ini seolah menegaskan bahwa ia penulis yang berjiwa bebas, sama sekali mengesampingkan pangsa pasar, penggemar, popularitas atau keuntungan materi.

Harper Lee menerima sekitar 40 Milyar per tahun dari royalti buku To Kill A Mockingbird yang telah melambungkan namanya. Namun ia tetap hidup sederhana, tinggal bersama kakaknya, Alice, di sebuah apartemen kecil di Alabama. Ia bahkan pergi ke mana-mana menumpang bus. Uang tidak pernah menjadi prioritas utamanya sejak awal menulis. Sebagian besar royalti yang diterimanya, disumbangkan untuk amal. Itupun ia menggunakan nama anonim, tanpa menyertakan namanya sendiri.

Sepanjang lima puluh enam tahun sejak To Kill A Mockingbird lahir, Harper Lee sedikit sekali melakukan wawancara. Ia senang menyendiri dan tidak menyukai publikasi. Tak banyak yang mengetahui kehidupannya. Ia menjaga keseharian pribadinya dan tinggal di sebuah kota kecil yang tenang di pinggiran Alabama. Di kota itu ia sangat dicintai oleh warganya dan penduduk sekitar turut serta menjaga privacy-nya. Tahun 2007 ia sempat terkena stroke dan kehilangan banyak kesadaran. Tahun 2016, setahun setelah merilis novel keduanya Go Set A Watchman,ia meninggal dalam tidur yang tenang.

Mungkin begitulah seharusnya menjadi seorang penulis: hanya menulis, dengan sepenuh hati. Tak peduli pada apapun atribut yang melekat di belakangnya. Jika kemudian tulisannya mendapat apresiasi bagus, best seller, penghargaan, popularitas atau royalti gemuk, anggap saja hanya bonus. Harper Lee telah berhasil melampaui hal-hal semacam itu dan tidak pernah menjadikannya tujuan utama. Menulis bukan untuk siapapun, melainkan diri sendiri.
-end-

Bidadari Surga

Pernahkah kau melihat bidadari ?
Katanya bidadari itu
Cantik, indah, menawan.

Aku mencoba membayangkan
Bagaimana rupanya

Namun saat aku membayangkan yang terlintas di benakku
Adalah DIA

Dia adalah sosok wanita yang sungguh indah, cantik, memawan, tulus.

Dia menjagaku dengan sepenuh hatinya
Setiap detik ia habiskan untuk kebahagiaanku.

Dia adalah perempuan tegar yang sering berbohong demi kebahagiaanku

Dia adalah bidadari surgaku
Aku memanggilnya

IBU

Kazumi Yoshiko
Padang
Kazumiyoshiko.tumblr.com

Kamis, 07 April 2016

Story Behind The Village


Story by: Ibnu F.N and edited by Jason

... Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang disekitarnya terdapat pohon alang alang yang sangat lebat.
Bukan, jelas aku bukan berada di kota. Aku pergi ke sebuah rumah kakekku yang berada di desa terpencil didaerah Texas.

Tidak biasanya aku mau pergi ke sebuah desa atau tempat yang seperti ini, tapi aku ingin menanyakan sesuatu kepada kakekku tentang desa yang ditinggalkannya ini.
Kenapa?

Well, aku membaca sebuah artikel di Reddit yang berisikan beberapa foto banyak sekali tumbal— atau manusia yang sedang dijadikan persembahan untuk para warga disana, puluhan tahun lalu. Dan lokasinya adalah desa yang ditempati kakekku sekarang.
Anehnya, kakekku bukan warga asli didesa sana, tetapi ia nekad untuk tinggal disana. Karna alam pedesaan yang sangat kentara— indah kalau bisa dibilang.

Aku memasuki rumahnya yang berpondasikan kayu jati. Kesannya seperti 'jadul', deh. Aku melihat sekitaran sini, memang alam pedesaan sangat enak dipandang disini meskipun tempatnya terpencil. Aku mengetuk pintu kayu itu, lalu kakekku membukakannya.

"James? Tumben sekali.." sapanya pertama kali ketika ia membuka pintu tersebut. Terlihat dari wajahnya yang senang ketika cucunya menemuinya sekarang.

"Ya.. aku ingin kesini saja. Aku kira kau sudah pergi jauh ternyata, tempat ini bagus juga, ya.." balasku. Kakekku mempersilahkanku masuk, aku duduk di sofa empuknya itu yang berbahan kulit. cukup halus, dan sedikit licin.
"Kau mau apa? Kopi? Teh?"
"Tidak usah repot repot, kek. Air putih saja."

Kakekku lalu pergi ke arah dapur, aku hanya duduk diam disini. Sesekali aku memandangi sekitaran isi rumahnya. Interiornya cukup bagus, nuansa pedesaan juga terasa. Terdapat patung kepala rusa yang tergantung di dinding rumahnya, unik. Ternyata kakekku juga pandai berburu. Aku memijakkan kakiku di sebuah karpet bulu harimau dengan kepala harimau yang khas itu.

Lalu, ia kembali ke ruang tamu, membawa segelas air dan menaruhnya di meja. Ia lalu duduk di kursi goyangnya. Akupun memulai pembicaraan.

"Kek, aku ingin bertanya kepadamu soal..." aku sedikit terbata, karena aku sedikit takut untuk menanyakannya kepada kakekku soal desa ini.
"Soal apa, James? Aku? Aku baik baik saja disini. Aku sehat. Meskipun tidak ada makanan, aku mempunyai beberapa "barang" agar aku bisa hidup, hahaha" ia sempat sempatnya bersenda gurau disaat aku gugup seperti ini.

"Bukan, bukan itu. Aku ingin menanyakan asal usul desa ini seperti apa.." dan, aku langsung menanyakannya.
"Oh- begitu rupanya.." tatapannya kian berubah menjadi serius. Ia menyenderkan badannya di kursi itu sambil menggoyangkannya.

" Mungkin kamu tahu dari internet atau sumber manapun tentang desa ini, bukan? Well, itu memang benar adanya..."

Deg-! Seketika jantungku berdebar dengan cepat. Yang selama aku baca di internet ternyata itu benar.
"Jadi, desa ini adalah desa yang mengerikan? Lalu kenapa kakek mau tinggal disini??" tanyaku lagi.
"Aku belum selesai.. Biar kakek jelaskan lebih detail tentang desa ini.."

It Was Ellen Face


Credited to : Vincent_VenaCava
Translated & Retold by : Manon

Ellen, si gadis muda nan cantik jelita menjawab dan melamar bekerja sebagai baby sitter sesuai iklan lowongan kerja yang di sebarkan Barbara melalui internet. Gadis muda itu begitu memancarkan sifat polos dan tampak sangat berbunga-bunga ketika Barbara menghubunginya untuk interview. Ada sesuatu yang Barbara sukai dari gadis itu, tapi baru setelah melakukan sesi interview, Barbara merasa cukup yakin untuk memperkerjakan Ellen.

Adalah wajah Ellen,
yang terlihat mirip sekali dengan almarhum sahabat karib Barbara semasa SMA yang meninggal saat berumur 18 tahun karena penyakit Leukimia. Anak-anak Barbara pun juga tampak cepat akrab dengan Ellen. Saat Barbara menanyai mereka tentang apa yang mereka sukai dari Ellen, anak-anak itu menjawab dengan riang bahwa yang mereka sukai...
adalah wajah Ellen.

Wajah Ellen begitu menentramkan, membuat mereka jadi merasa aman dan nyaman. Apalagi dia juga cantik rupawan.
Seminggu setelah wawancara, Ellen pun datang untuk menjaga anak-anak, jadi Barbara akhirnya bisa pergi dengan seorang pria kenalannya, pada kencan malam yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Barbara dan pria itu pergi makan malam romantis ke salah satu restoran termewah di kota. Setelah itu mereka memutuskan untuk minum-minum dulu sebelum pulang. Ketika mereka memasuki Bar, tempat itu sunyi. Karena semua pengunjung dan juga si bartender sedang diam menyaksikan sekilas berita terbaru di televisi, si pembawa acara tengah memberitakan tentang orang hilang/kasus pembunuhan yang banyak menyita perhatian masyarakat,

"Tersangka buron yang mana sebelumnya telah melakukan penculikan serta pembunuhan terhadap beberapa korban anak kecil, saat ini tengah menjadi target pencarian utama oleh pihak kepolisian. Sekarang akan kami tampilkan foto dari si tersangka. Harap waspada, karena tersangka ini di duga kuat sangatlah berbahaya."

Saat foto memenuhi layar televisi, Barbara sontak menjerit panik.
Itu adalah wajah Ellen.