Kamis, 07 April 2016

Aku Bukan Maling

Karya : En  Malik

"Silahkan, kalau Anda ingin membawa saya ke kantor polisi! Dengan syarat, selama saya dipenjara, warga desa harus mengobatkan bapak saya sampai sehat. Yang kedua, warga desa harus memberi jatah pangan yang layak pada keluarga saya."

"Heee! Memang siapa kamu? Berani menyuruh kami seperti itu" sahut seorang warga dengan nada jengkel.

"Karena, bila saya dipenjara, siapa yang membantu ibu saya bekerja dan merawat bapak dan adik-adik saya?"

*

Entah apa yang dipikirkan Ahmad siang itu. Dia segera memanggul sekarung beras dari Toko Sumber Mapan. Seketika penjaga toko teriak "Maliiing".

Dengan santainya, Ahmad memanggul sekarung beras itu berjalan sampai di perempatan. Dia tak menggubris teriakan warga memergoki maling.

Sebuah pukulan melayang di pelipis Ahmad. Dia pun tersungkur.
"Hajar saja! Dasar maling" teriakan seorang warga di parkiran dekat toko, membuat orang sekitar berdatangan dan berusaha ikut memukuli Ahmad.
"Heee, kalian kalau berani maju satu per satu! Jangan asal main keroyok!" tantang Ahmad pada orang-orang tersebut.
Badan Ahmad yang memang lumayan tinggi walaupun agak kurusan, tapi dapat melawan satu persatu orang-orang itu jadi mundur. Kemudian, entah benda apa mengenai kepala dari belakang, tiba-tiba mata Ahmad berkunang-kunang dan sempoyongan. Di saat itulah, warga beramai-ramai memukulinya.

**
Setelah dipukuli, Ahmad digeret ke kantor desa yang terletak dekat pasar tersebut. Berkumpulah orang-orang di kantor desa, menyaksikan kejadian itu. Polisi akhirnya datang menghentikan keributan tersebut. Wargapun meminta dia interogasi di depan banyak orang.
"O, ini malingnya ya?Jadi selama ini malingnya itu kamu ya?"
"Huuuu...maling, bakar saja!" suara warga desa tersebut serempak.
"Tenang-tenang, kami dari pihak kepolisian akan menangani, jangan asal bakar bapak-bapak!" seorang polisi meredam kemarahan warga.
"Kalau tidak dibakar, suatu hari kalau sudah bebas, dia maling lagi Pak Polisi"

"Jangan main hakim sendiri! Ini sudah jadi tanggung jawab pihak berwajib. Anda semua tenang dulu" suara polisi itu bernada agak membentak.

***
Ahmad di interogasi di kantor desa, atas permintaan warga tersebut. Karena merasa jengkel, desa tersebut sering kemalingan.

"Apa alasanmu mencuri beras di Toko Sumber Mapan?"

"Karena ekonomi Pak" polisi pun geleng kepala.

"Kenapa? Bapak sudah bosan mendengar alasan tersebut?"

"Diam kamu! Umurmu masih enam belas tahun, mengapa tidak sekolah?"

"Tidak ada biaya"

"Orang tuamu, bagaimana?"

"Bapak saya sakit, ibu saya cuma buruh atau kadang memulung sampah dengan saya Pak"

"Kenapa kau tak berpikir sekolah, berusaha sekuat mungkin?"

"Setahun lalu saya daftar ke sekolah SMA , hanya belum bisa melunasi uang gedung, saya dikeluarkan dari sekolah. Memohon keringanan tiada guna."

Beberapa pertanyaan dilontarkan pada Ahmad. Polisipun menjadi iba dengan penuturan Ahmad yang jujur. Walaupun demikian, pihak kepolisian tetap menjalankan tugas sesuai prosedur.

Sedangkan diluar, warga teriak-teriak. Agar Ahmad keluar dari kantor desa.

"Inilah sampah masyarakat, seorang generasi muda yang sukanya maling" kata Kepala Desa tersebut sambil menunjuk Ahmad.

"Tidak, saya bukan maling dan bukan sampah masyarakat" dengan tangan di borgol, Ahmad tetap berani menampik tuduhan tersebut.

"Hemmmm, kamu melawan ya?" mata Pak Kades melotot pada Ahmad.

"Taukah Anda semua?Saya membawa sekarung beras dari Toko Sumber Mapan, memang kurang makan. Dan saya ingin melihat agaimana responnya?Saya sering kali di tuduh sebagai maling, rampok dan lain sebagainya. Apa buktinya? Raskin hilang dari gudang kantor desa, bukan saya yang mencuri. Toko Sumber Mapan sering kemalingan, bukan saya yang maling, warga sering kehilangan barang berharga miliknya, selerti ternak, uang bahkan sepeda motor, bukan saya yang mengambil"

"Hey, jangan sok membela diri anak ingusan!" tangan Pak Kades Sunarto sudah ingin menempeleng Ahmad.

"Tenang! Tenanglah Pak Kades! Jangan main pukul!

"Saya ingusan masih pantas. Tapi, bila pak kades ingusan itu tak pantas"

"Apa katamu?" sebuah tamparan mendarat di pipi Ahmad.

"Tenang pak! Kami akan menindaklanjuti."

****

"Pak polisi, tolong bebaskan anak saya, dia masih bocah belum tahu apa-apa" tiba-tiba ibunya Ahmad datang dengan memelas agar anaknya dibebaskan.

"Tenang Bu! Kami akan melanjut proses hukum sesuai prosedur" ibunya Ahmad menusap usap matanya yang berderaian air mata.

"Warga sekalian, apakah percaya dengan kata-kata anak ini?" Menuduhku sembarangan" kata Pak Kades Sunarto dengan nada marah.

"Ya, kami tidak percaya pak kades. Tapi untuk jelasnya lagi, Anda jelaskan pada kita semua!"

"Kalian warga di sini tak membuka mata, dan telinga, kalian buta dan tuli. Kalian hanya berani dengan mengroyok pada bocah. Beranikah kalian keroyok Pak Kades yang nyata dia tak amanah?" kata Ibunya Ahmad langsung ikut bicara.

"Hei, apa yang kamu katakan?" Pak Kades Sunarto melotot kearah Ibunya Ahmad.

"Bagaimana ibu tahu hal itu?"tanya seorang warga.

"Lupakah Anda semua? Saya dulu sebagai sekertaris desa ini. Saya dituduh korupsi uang rakyat. Sehingga dipecat, padahal bukti-bukti itu tidak akurat. Warga desapun percaya dengan tuduhan itu. Lalu mengucilkan saya dengan keluarga. Dipecat tanpa gaji dan tanpa biaya apapun, kalau tidak mau, dapat ancaman dipenjara. Sebenarnya saya tak makan hak rakyat, atau korupsi. Tapi, karena tak mau tanda tangan soal penggelapan uang untuk dana pembangunan jalan yang akan di aspal"

Warga saling berbisik dan saling pandang.

"Sekalian pak kades juga ikut ke kantor polisi. Supaya memberi keterangan dana yang akan dialokasikan untuk pembanguan jalan" kata seorang warga pada Pak Kades Sunarto.

"Hey, apa-apaan ini? Kalian semua telah dibohongi. Jangan percaya pada wanita miskin ini!"

"Saya memang miskin harta, tapi tak makan hak rakyat seperti Anda? Bila yang makan hak milik rakyat itu seorang pemimpin, bahkan sampai berpuluh juta, kalian tak berani mengroyoknya. Tapi bila seorang warga yang hanya mengambil barang, bila ditotal tak seberapa berharga, kalian sampai membakar. Apa itu keadilan? Apa itu ketentraman bermasyarakat? Apa itu aman? Bisa di ibaratkan, kalian lebih suka kulit dari pada isinya. Kalian memandang hormat orang dengan label kehormatan dari pada memandang orang dengan kebijaksaaan dan keadilan" Ibunya Ahmad menangis sambil memeluk erat Ahmad.

Akhirnya, Ahmadpun tetap dibawa kekantor polisi untuk menyelesaikan urusan tindakannya tersebut. Sedangkan Pak Kades Sunarto, juga harus ikut kekantor polisi untuk menjelaskan tentang keuangan desa yang katanya digelapkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar